Sunday, February 14, 2010

AIDS

kesehatan yang terinfeksi HIV akibat resiko pekerjaan. Dari 57 kasus tersebut, 24 kasus diantaranya (terbanyak) dialami oleh perawat. Di Indonesia, walaupun

belum ada data yang pasti, namun jika melihat pengendalian infeksi di rumah sakit yang masih lemah, maka resiko penularan infeksi termasuk HIV terhadap perawat bisa dikatakan cukup tinggi.

RSUD dr. Slamet Garut merupakan rumah sakit rujukan di Kabupaten Garut yang

mempunyai misi “Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang prima dan terjangkau dengan menjungjung tinggi kode etik serta senantiasa memperhatikan fungsi sosial. Di rumah sakit ini pun tenaga perawat merupakan tenaga terbanyak diantara tenaga kesehatan lainnya. Dengan semakin meluasnya kejadian kasus HIV ke berbagai daerah termasuk

Kabupaten Garut, pencegahan penularan ke tenaga keperawatan melalui penerapan standar pencegahan umum sangatlah penting. Sebelum dapat melaksanakan pencegahan umum secara baik tentunya perawat harus memahami terlebih dahulu tentang HIV/AIDS berikut berbagai kompleksitas masalahnya. Pemahaman akan mempengaruhi sikap, dan dari sikap akan menentukan perilaku nyata yang akan dimunculkan. Dalam konteks ini, perilakunya adalah berupa pelaksanaan pencegahan umum penularan HIV oleh perawat, yang tentunya terkait dengan pengetahuan dan sikap yang diyakininya. Oleh karenanya penelitian ini ingin mengungkap bagaimana pengetahuan, sikap, dan pelaksanaan teknik pencegahan umum perawat terhadap penularan HIV/AIDS

1.2 TUJUAN

Tujuan diangkatnya masalah “AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome)” adalah

1. Mengidentifikasi pengetahuan perawat RSUD dr. Slamet Garut tentang HIV/AIDS

2. Mengidentifikasi sikap perawat RSUD dr. Slamet Garut terhadap HIV/AIDS

3. Mengidentifikasi pelaksanaan teknik pencegahan umum perawat dalam pencegahan

penularan HIV/AIDS di RSUD dr. Slamet Garut

4. Menguji hubungan antara pengetahuan, sikap dengan pelaksanaan teknik pencegahan

umum perawat dalam pencegahan penularan HIV/AIDS

1.3 MANFAAT PENELITIAN

Hasil dari penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi praktik keperawatan,

pendidikan keperawatan, dan juga bagi pengembangan penelitian lebih lanjut.

1. Untuk praktik keperawatan, penemuan dari penelitian ini akan menyediakan informasi yang sangat berguna untuk meningkatkan kemampuan perawat dalam perawatan pasien HIV/AIDS

2. Untuk pendidikan keperawatan, informasi yang didapat dari hasil penelitian ini akan bermanfaat sebagai bahan masukan bagi pengembangan pembelajaran asuhan keperawatan pada klien HIV/AIDS

3. Untuk penelitian keperawatan, penemuan dari penelitian ini dapat menjadi data dasar atau rujukan bagi penelitian lanjut yang berhubungan dengan perawatan pasien HIV/AIDS

1.3 RUMUSAN MASALAH

Masalah-masalah yang ingin digali dalam penelitian ini adalah seperti terangkum

dalam pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Bagaimana pengetahuan perawat RSUD dr. Slamet Garut tentang HIV/AIDS?

2. Bagaimana sikap perawat RSUD dr. Slamet Garut terhadap HIV/AIDS?

3. Bagaimana pelaksanaan teknik pencegahan umum perawat dalam pencegahan

penularan HIV/AIDS di RSUD dr. Slamet Garut?

4. Adakah hubungan yang bermakna antara pengetahuan, sikap dan pelaksanaan teknik pencegahan umum perawat dalam pencegahan penularan HIV/AIDS?

1.4 RANGKAIAN TEORI

Pengetahuan dan sikap dianggap faktor penentu (determinants) penting bagi terbentuknya sebuah perilaku. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan aspek kognitif seseorang dalam menerima, memproses, dan merespon terhadap informasi. Dalam Social Cognitive Theory (Bandura dalam Bartholomew, 2001) dijelaskan bahwa perilaku manusia merupakan sebuah model hubungan timbal balik ketika kognitif, faktor kepribadian, dan lingkungan bekerja dan berinteraksi satu dengan lainnya untuk membentuk sebuah perilaku. Disisi lain, sikap selalu dikaitkan dengan perilaku yang berada dalam bataskewajaran dan kenormalan yang merupakan respon atau reaksi terhadap stimulus lingkungan social.

Teori tindakan beralasan (theory of reasoned action) dari Icek Ajzen dan Martin Fishbein seperti yang dikutif Azwar (1995), mengatakan bahwa sikap mempengaruhi perilaku lewat suatu proses pengambilan keputusan yang teliti dan beralasan. Teori ini didasarkan pada asumsi-asumsi;

a) bahwa manusia umumnya melakukan sesuatu dengan cara-cara yang masuk akal,

b) bahwa manusia mempertimbangkan semua informasi yang ada, dan

c) bahwa secara eksplisit maupun inplisit manusia memperhitungkan implikasi tindakan mereka.

Kedua teori di atas dapat dipakai sebagai acuan untuk memahami bagaimana pengetahuan dan sikap perawat dalam memunculkan sebuah perilaku nyata yaitu melaksanakan tehnik pencegahan umum terhadap penularan HIV/AIDS. Selain pengetahuan dan sikap, tentunya masih ada faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap terbentuknya sebuah perilaku, misalnya motivasi (intention), dukungan (reinforcement), tekanan (enforcement), dan ketersedian sarana/fasilitas (enabling factors). Dalam penelitian ini, peneliti membatasi hanya melihat dua faktor; yaitu pengetahuan dan sikap, yang menurut banyak literature sangat menentukan bagi terbentuknya perilaku

(Notoatmodjo, 2003). Secara skematis kerangka pemikiran ini bisa digambarkan dalam Gambar 3.1 di bawah ini

Pengetahuan perawat tentang dan Sika[ Perawat

HIV/AIDS dan tehnik

pencegahan umum

Intensitas/kekuatan

kecenderungan untuk

berperilaku

Perilaku dalam bentuk

melaksanakan tehnik

pencegahan umum terhadap

penularan HIV/AIDS

Gambar 3.1 Bagan pemikiran pengetahuan, sikap, dan tehnik pencegahan umum perawat terhadap penularan HIV/AIDS

1.5 METODE

Dalam penyusunan makalah ini metode yang digunakan adalah tinjauan kepustakaan yang semua bahannya diambil dari jurnal

1.6 SISTEMATIKA PENULISAN

1. Pendahuluan

Terdiri dari :

1. Latar Belakang

2. Permasalahan

3. Metode

4. Sistematika Penulisan

2. Pembahasan

Dalam pembahasan ini penyusunan menguraikan permasalahan- permasalahan diangkat dalam makalah ini.

3. Penutup

Terdiri dari :

1. Simpulan

2. Saran dan Kritik

Daftar Perpustakaan

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN HIV/AIDS

AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome, merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang ditandai dengan gejala menurunnya sistem kekebalan tubuh. AIDS dapat dikatakan suatu kumpulan tanda/gejala atau sindrom yang terjadi akibat adanya penurunan daya kekebalan tubuh yang didapat atau tertular/terinfeksi, bukan dibawa sejak lahir. Penderita AIDS mudah diserang infeksi oportunistik (infeksi yang disebabkan oleh kuman yang pada keadaan system kekebalan tubuh normal tidak terjadi) dan kanker dan biasanya berakhir dengan kematian.

2.2 PENYEBAB HIV/AIDS

Penyebab AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV) yakni sejenis virus RNA yang tergolong retrovirus. Dasar utama penyakit infeksi HIV ialah berkurangnya jenis sel darah putih (Limfosit T helper) yang mengandung marker CD4 (Sel T4).Limfosit T4 mempunyai pusat dan sel utama yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam menginduksi kebanyakan fungsi-fungsi kekebalan, sehingga kelainan-kelainan fungsional pada sel T4 akan menimbulkan tanda-tanda gangguan respon kekebalan tubuh. Setelah HIV memasuki tubuh seseorang, HIV dapat diperoleh dari lifosit terutama limfosit T4, monosit, sel glia, makrofag dan cairan otak penderita AIDS.

2.3 TANDA dan GEJALA HIV/AIDS

Adanya HIV dalam tubuh seseorang tidak dapat dilihat dari penampilan luar. Orang yang terinfeksi tidak akan menunjukan gejala apapun dalam jangka waktu yang relative lama (±7-10 tahun) setelah tertular HIV. Masa ini disebut masa laten. Orang tersebut masih tetap sehat dan bisa bekerja sebagaimana biasanya walaupun darahnya mengandung HIV. Masa inilah yang mengkhawatirkan bagi kesehatan masyarakat, karena orang terinfeksi secara tidak disadari dapat menularkan kepada yang lainnya. Dari masa laten kemudian masuk ke keadaan AIDS dengan gejala sebagai berikut:

• Tanda-tanda utama (mayor) meliputi penurunan berat badan lebih dari 10% dalam waktu singkat, demam berkepanjangan selama lebih dari satu bulan, dan diare kronis selama lebih dari satu bulan

• Tanda-tanda tambahan (minor) meliputi batuk berkepanjangan selama lebih dari satu bulan, kelainan kulit (gatal), herpes simpleks (kulit melepuh dan terasa nyeri) yang melebar dan bertambah parah, infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan, dan pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh, yang teraba di bawah telinga, leher, ketiak, dan lipat paha.

2.4 PENULARAN HIV/AIDS

HIV dapat ditemukan pada semua cairan tubuh penderita, tetapi yang terbukti penularannya adalah melalui darah, air mani dan cairan serviks/vagina saja. Cara penularan HIV/AIDS ini dapat melalui :

1. Hubungan seksual

2. Penerimaan darah atau produk darah melalui transfusi darah

3. Penggunaan alat suntik, alat medis dan alat tusuk lain (tato, tindik, akupuntur, dll.)

yang tidak steril

4. Penerimaan organ, jaringan atau air mani

5. Penularan dari ibu hamil kepada janin yang dinkandungnya.

6. Sampai saat ini belum terbukti penularan melalui gigitan serangga, minuman, makanan

atau kontak biasa dalam keluarga, sekolah, kolam renang, WC umum atau tempat kerja

dengan penderita AIDS

2.5 PENCEGAHAN PENULARAN HIV/AIDS

Dengan mengetahui cara penularan HIV, maka akan lebih mudah melakukan langkah langkah pencegahannya. Secara mudah, pencegahan HIV dapat dilakukan dengan rumusan ABCDE yaitu:

A= Abstinence, tidak melakukan hubungan seksual atau tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah

B= Bei faithful, setia pada satu pasangan, atau menghindari berganti-ganti pasangan seksual

C=Condom, bagi yang beresiko dianjurkan selalu menggunakan kondom secara benar selama berhubungan seksual

D= Drugs injection, jangan menggunakan obat (Narkoba) suntik dengan jarum tidak steril atau digunakan secara bergantian

E= Education, pendidikan dan penyuluhan kesehatan tentang hal-hal yang berkaitan

dengan HIV/AIDS Dengan semakin meningkatnya kasus HIV/AIDS diperlukan kesiapan para tenaga kesehatan untuk memberikan bantuan dan pelayanan pada pasien-pasien HIV/AIDS.

Disisi lain, dengan kemajuan ilmu dan tehnologi di bidang kesehatan, HIV/AIDS yang tadinya merupakan penyakit progresif yang mematikan bergeser menjadi penyakit kronis yang bisa dikelola. Meskipun belum ditemukan obat yang bisa membunuh virus HIV secara tuntas, dengan ditemukannya obat antiretroviral, para penderita HIV/AIDS bisa lebih meningkat usia harapan hidupnya. Hal ini tentunya harus didukung oleh upaya perawatan yang adekuat agar tercapai kualitas hidup yang optimal.

2.6 PERAWATAN PASIEN HIV/AIDS

Asuhan perawatan pada pasien HIV/AIDS bersifat unik untuk setiap individu, dipengaruhi oleh karakteristik individu, tahap perkembangan gejala yang sedang dialami oleh penderita HIV/AIDS, dan sikap masyarakat terhadap HIV/AIDS. Masalah-masalah keperawatan yang umum ditemukan pada penderita HIV/A IDS diantaranya:

1. Resiko mendapatkan infeksi (opportunistic infection) sehubungan dengan penurunan kekebalan tubuh

2. Kelelahan (fatigue) sehubungan dengan proses infeksi HIV

3. Nyeri akut/kronis sehubungan dengan adanya neuropathy, kanker, infeksi

4. Ketidakseimbangan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan tidak nafsu makan, mual, muntah, sakit menelan, nyeri pada mulut, diare

5. Gangguan integritas kulit sehubungan dengan infeksi, kanker

6. Isolasi sosial sehubungan dengan takut penyebaran virus, stigma

7. Resiko harga diri rendah sehubungan dengan perubahan penampilan tubuh

8. Perubahan pola seksual sehubungan dengan resiko penyebaran penyakit

9. Cemas sehubungan dengan kurang pengetahuan, kurang dukungan keluarga/sosial

10. Respon pertahanan (coping mechanism) yang tidak efektif sehubungan dengan penyakit kronis yang progresif

11. Kesedihan yang mendalam sehubungan dengan penurunan fungsi pertahanan tubuh atau persepsi terhadap kematian yang mengancam

Untuk mengurangi resiko mendapatkan infeksi, ODHA dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan diri (personal hygienes), memelihara keamanan dan kebersihan makanan dan minuman, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari perilaku yang beresiko tertular atau menularkan penyakit, dan menjalankan pengobatan secara teratur.

Fatigue bisa timbul akibat infeksi, pengobatan, anemia, dehidrasi, depresi, atau karena nutrisi yang jelek. Fatigue dapat dikelola dengan cara menyelingi aktivitas dengan istirahat, menyusun jadual kegiatan/pekerjaan yang memerlukan banyak tenaga dilakukan pada saat kondisi lebih energik. Diet makanan tinggi kalori, tinggi protein serta mengkonsumsi suplemen vitamin dan mineral. Selama infeksi HIV berlangsung, pasien pada umumnya tinggal di rumah.

Perawatan di rumah sakit mungkin diperlukan untuk waktu-waktu tertentu selama episode akut. Ketika penyakit terus berkembang, pasien perlu perawatan serius dari keluarga atau perawat masyarakat (community nurse). Perawat akan membantu cara melakukan perawatan fisik, membangun hubungan terapetik, dan mengkoordinasikan perawatan dengan anggota tim kesehatan lainnya. Berbagai fasilitas pendukung di masyarakat harus dikenali. Ketika pasien berada dalam fase terminal, perawatan yang memberi dukungan kenyamanan dan dukungan emosi untuk pasien dan keluarga sangat dibutuhkan.

2.7 Penerapan Tehnik Pencegahan Umum di Pelayanan Kesehatan dalam Menecegah Resiko Penularan HIV/AIDS

Pencegahan umum atau dengan kata lain ”kewaspadaan universal (universal precautions)” merupakan salah satu upaya pengendalian infeksi di sarana pelayanan kesehatan yang telah dikembangkan pleh Departemen Kesehatan RI sejak tahun 1980-an. Penerapan pencegahan umum didasarkan pada keyakinan bahwa darah dan cairan tubuh sangat potensial menularkan penyakit baik yang berasal dari pasien maupun petugas kesehatan.

Prinsip utama prosedur kewaspadaan universal adalah menjaga hygiene individu, sanitasi ruangan, dan sterilisasi peralatan. Ketiga prinsip tersebut dijabarkan menjadi lima kegiatan pokok yaitu:

1) Cuci tangan untuk mencegah infeksi silang

2) Pemakaian alat pelindung diri seperti sarung tangan, masker, kaca mata, dan barak short.

3) Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai

4) Pengelolaan jarum dan benda tajam untk mencegah perlukaan

5) Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan

A. Cuci Tangan

Cuci tangan yang dilakukan secara benar dapat menghilangkan mikroorganisme

yang menempel ditangan. Cuci tangan harus selalu dilakukan sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan ke pasien, memakai sarung tangan, menyentuh darah, cairan tubuh, atau eksresi pasien. Tiga cara cuci tangan dilaksanakan sesuai kebutuhan

yaitu cuci tangan hygienis atau rutin untuk menghilangkan kotoran dengan menggunakan sabun atau deterjen, cuci tangan aseptik yang dilakukan sebelum melakukan tindakan aseptik ke pasien, cuci tangan ini dilakukan dengan menggunakan zat antiseptik, dan cuci tangan bedah yang dilakukan sebelum melakukan tindakan bedah cara aseptik. Sarana yang perlu dipersiapkan untuk melakukan cuci tangan adalah air mengalir, sabun dan deterjen, larutan antiseptik, dan pengering dari mulai handuk/lap bersih, lap kain atau handuk steril sampai alat pengering tangan listrik (hand drier).

Adapun prosedur cuci tangan rutin adalah sebagai berikut:

1) Hidupkan kran air

2) Basahi tangan setinggi pertengahan lengan bawah dengan air mengalir.

3) Taruh sabun antiseptik di bagian telapak tangan yang telah basah. Buat busa secukupnya tanpa percikan.

4) Buat gerakan cuci tangan terdiri dari gosokan kedua telapak tangan, gosokan telapak tangankanan diatas punggung tangan kiri dan sebaliknya, gososk kedua telapak tangan dengan jari saling mengait, gosok kedua ibu jari dengan cara menggenggam dan memutar, gosok pergelangan tangan.

5) Proses berlangsung selama 10-15 detik.

6) Bilas kembali dengan air bersih.

7) Keringkan tangan dengan handuk atau kertas sekali pakai.

8) Matikan kran dengan kertas atau tisue.

.B. Pemakaian Alat Pelindung Diri

Alat pelindung digunakan untuk melindungi kulit dan selaput lendir petugas dari resiko pajanan darah, cairan tubuh, sekret, dan eksreta pasien. Jenis-jenis alat pelindung diri yaitu; sarung tangan, pelindung wajah/masker/kaca mata, penutup kepala, gaun pelindung (barak short), dan sepatu pelindung. Tidak semua alat pelindung diri harus dipakai pada waktu yang bersamaan, tergantung pada jenis tindakan yang akan dikerjakan.

Misalnya ketika akan menolong persalinan sebaiknya semua pelindung diri dipakai untuk mengurangi kemungkinan terpajan darah/cairan tubuh pada petugas, namun untuk tindakan menyuntik atau memasang infus, cukup dengan memakai sarung tangan.

C. Pengelolaan Alat Kesehatan Bekas Pakai

Pengelolaan alat-alat kesehatan bekas pakai bertujuan untuk mencegah penyebaran infeksi melalui alat kesehatan, atau untuk menjamin bahwa alat-alat tersebut dalam kondisi steril dan siap digunakan. Semua alat yang akan dimasukan kedalam jaringan bawah kulit pasien harus dalam keadaan steril. Proses pengelolaan alat-alat kesehatan ini dilakukan melalui empat tahap kegiatan yaitu:

1) Dekontaminasi, yaitu menghilangkan mikroorganisme pathogen dan kotoran dari suatu benda sehingga aman untuk pengelolaan selanjutnya. Cara dekontaminasi yang lazim dilakukan adalah dengan merendam alat kesehatan dalam larutan desinfectan, misalnya klorin 0,5%, selama 10 menit.

2) Pencucian, dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang kasat mata dengan cara mencuci denga air, sabun/deterjen, dan sikat.

3) Sterilisasi, yaitu proses menghilangkan seluruh mikroorganisme termasuk endosporanya dari alat kesehatan. Cara sterilisasi yang sering dilakukan adalah dengan uap panas bertekanan, pemanasan kering, gas etilin oksida, dan zat kimia cair. Dengan kata lain, penggolongan cara sterilisasi juga dapat dikategorikan cara fisik seperti pemansan, radiasi, filtrasi, dan cara kimiawi dengan menggunakan zat kimia.

4) Penyimpanan, penyimpanan yang baik sama pentingnya dengan proses sterilisasi atau desinfeksi itu sendiri. Ada dua metode penyimpanan yaitu cara terbukus dan tidak terbungkus.

D. Pengelolaan Jarum dan Benda Tajam

Jarum suntik sebaiknya digunakan sekali pakai dan jarum bekas atau benda tajam lainnya di buang ke tempat khusus (safety box) yang memiliki dinding keras atau tidak tembus oleh jarum atau benda tajam yang dibuang kedalamnya. Kecelakaan yang sering terjadi pada prosedur penyuntikan adalah ketika petugas berusaha memasukan kembali jarum suntik bekas pakai kedalam tutupnya (recappping). Oleh karenanya meurut rekomendasi tehnik kewaspadaan universal dari WHO (2004) penutupan kembali jarum suntik setelah digunakan sebaiknya tidak perlu diperlukan, jadi jarum suntik bersama syringnya langsung saja dibuang ke kotak khusus.

Jika sangat diperlukan untuk menutup kembali, misalnya karena masih ada sisa obat yang bisa digunaka, maka penutupan jarum suntik kembali dianjurkan dengan menggunakan tehnik satu tangan (single handed

recapping method).

E. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan

Secara umum limbah dapat dibedakan menjadi limbah cair dan limbah padat, namun lebih khusus lagi limbah yang berasal dari rumah sakit dibedakan menjadi:

1) Limbah rumah tangga atau limbah non medis

2) Limbah medis terdiri dari limbah klinis, laboratorium

3) Limbah berbahaya yaitu limbah kimia yang mempunyai sifat beracun misalnya

senyawa radioaktif dan bahan sitotoksik

Cara penanganan limbah di sarana pelayanan kesehatan harus dimulai dari tempat dimana sampah diproduksi dengan cara:

1) Pemilahan, dilakukan dengan menyediakan wadah yang sesuai dengan jenis sampah, misalnya hitam untuk limbah non medis, kuninga untuk limbah medis infectious, dan merah untuk bahan beracun, dst.

2) Semua jenis limbah ditampung dalam wadah berupa kantong plastik yang kedap air.

3) Bila sudah terisi 2/3 volume kantong sampah, kantong sampah harus diikat secara rapat, dan segera diangkut ke tempat penampungan sementara.

4) Pengumpulan sampah dari ruang perawatan atau pengobatan harus tetap pada wadahnya jangan dituangkan pada gerobak yang terbuka.

5) Petugas yang menangani sampah harus selalu menggunakan sarung tangan dan sepatu serta selalu mencuci tangan setiap selesai mengambil sampah.

6) Sampah dari tempat penampungan sementara diangkut ke tempat pemusnahan. Sistem pemusnahan yang dianjurkan adalah dengan pembakaran (insenerasi) pada suhu tinggi (>12000 C)

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Bab ini melukiskan dengan baik bahwa “Asuhan perawatan pada pasien HIV/AIDS”, merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang ditandai dengan gejala menurunnya sistem kekebalan tubuh. AIDS dapat dikatakan suatu kumpulan tanda/gejala atau sindrom yang terjadi akibat adanya penurunan daya kekebalan tubuh yang didapat atau tertular/terinfeksi, bukan dibawa sejak lahir. Penderita AIDS mudah diserang infeksi oportunistik (infeksi yang disebabkan oleh kuman yang pada keadaan system kekebalan tubuh normal tidak terjadi) dan kanker dan biasanya berakhir dengan kematian.

Maka, Asuhan perawatan pada pasien HIV/AIDS bersifat unik untuk setiap individu, dipengaruhi oleh karakteristik individu, tahap perkembangan gejala yang sedang dialami oleh penderita HIV/AIDS, dan sikap masyarakat terhadap HIV/AIDS. Masalah-masalah keperawatan yang umum ditemukan pada penderita HIV/A IDS diantaranya:

1. Resiko mendapatkan infeksi (opportunistic infection) sehubungan dengan penurunan kekebalan tubuh

2. Kelelahan (fatigue) sehubungan dengan proses infeksi HIV

3. Nyeri akut/kronis sehubungan dengan adanya neuropathy, kanker, infeksi

4. Ketidakseimbangan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan tidak nafsu makan, mual, muntah, sakit menelan, nyeri pada mulut, diare

5. Gangguan integritas kulit sehubungan dengan infeksi, kanker

6. Isolasi sosial sehubungan dengan takut penyebaran virus, stigma

7. Resiko harga diri rendah sehubungan dengan perubahan penampilan tubuh

8. Perubahan pola seksual sehubungan dengan resiko penyebaran penyakit

9. Cemas sehubungan dengan kurang pengetahuan, kurang dukungan keluarga/sosial

10. Respon pertahanan (coping mechanism) yang tidak efektif sehubungan dengan penyakit kronis yang progresif

11. Kesedihan yang mendalam sehubungan dengan penurunan fungsi pertahanan tubuh atau persepsi terhadap kematian yang mengancam

Untuk mengurangi resiko mendapatkan infeksi, ODHA dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan diri (personal hygienes), memelihara keamanan dan kebersihan makanan dan minuman, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari perilaku yang beresiko tertular atau menularkan penyakit, dan menjalankan pengobatan secara teratur.

Fatigue bisa timbul akibat infeksi, pengobatan, anemia, dehidrasi, depresi, atau karena nutrisi yang jelek. Fatigue dapat dikelola dengan cara menyelingi aktivitas dengan istirahat, menyusun jadual kegiatan/pekerjaan yang memerlukan banyak tenaga dilakukan pada saat kondisi lebih energik. Diet makanan tinggi kalori, tinggi protein serta mengkonsumsi suplemen vitamin dan mineral. Selama infeksi HIV berlangsung, pasien pada umumnya tinggal di rumah.

Perawatan di rumah sakit mungkin diperlukan untuk waktu-waktu tertentu selama episode akut. Ketika penyakit terus berkembang, pasien perlu perawatan serius dari keluarga atau perawat masyarakat (community nurse). Perawat akan membantu cara melakukan perawatan fisik, membangun hubungan terapetik, dan mengkoordinasikan perawatan dengan anggota tim kesehatan lainnya. Berbagai fasilitas pendukung di masyarakat harus dikenali. Ketika pasien berada dalam fase terminal, perawatan yang memberi dukungan kenyamanan dan dukungan emosi untuk pasien dan keluarga sangat dibutuhkan.

3.2 SARAN dan KRITIK

Dari hasil penelitian ini penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut:

1) Langkah-langkah untuk mencegah atau meminimalkan kejadian cedera benda tajam sebagai akibat resiko kerja, perlu segera diambil oleh para pengelola tenaga keperawatan dan pihak terkait linnya karena pada akhirnya akan menjadi ancaman bagi produktifitas pelayanan keperawatan di rumah sakit. Langkah-langkah yang bisa diambil diantaranya meningkatkan kompetensi para perawat dengan pendidikan dan pelatihan terkait, penyediaan fasititas pendukung, pengawasan, pengendalian serta penagnan dini kasus-kasus kecelakaan kerja terutama tertusuk benda tajam.

2) Walaupun lebih dari setengah responden memiliki pengetahuan termasuk kategori baik, namun mengingat aspek-aspek pengetahuan yang berkaitan dengan resiko cedera benda tajam masih banyak yang tidak tahu atau menjawab salah, penyegaran pengetahuan (updating knowledge) masih sangat diperlukan terutama yang berkaitan dengan pengendalian resiko kecelekaan kerja dengan lebih fokus pada penerapan kewaspadaan universal dalam pencegahan penularan HIV/AIDS.

3) Pembinan sikap yang positif terhadap perawatan pasien HIV/AIDS perlu terus dilakukan mengingat hampir setengah responden masih menunjukan sikap negative terhadap perawatan pasien HIV/AIDS. Pembinaan ini bisa ditempuh dengan cara mensosialisasikan kemajuan yang positif dalam pengelolaan pasien HIV/AIDS, dukungan moril, fasilitas, dan kebijakan dari intitusi rumah sakit.

4) Mengingat masih banyak faktor lain yang belum terungkap yang turut berpengaruh terhadap munculnya perilaku, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengeksplor faktor-faktor terkait serta menguji faktor mana yang paling kuat prediksinya sehingga bisa dilakukan kontrol terhadap faktor tersebu

Penulis percaya dengan adanya penyusunan makalah tentang “Asuhan perawatan pada pasien HIV/AIDS” ini bermanfaat bagi pembaca dan menambah pengetahuannya.

Penulis percaya bahwa makalah ini tidak dapat memenuhi keinginan semua pihak,oleh karena itu, penulis akan sangat berterimakasih atas saran-saran yang dapat digunakan untuk menyempurnakan makalah ini.Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan yang telah memberikan dorongan sehingga makalah ini pada akhirnya dapat tersusun dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S.(2003). Sikap manusia: Teori dan Pengukurannya.

Bartholomew, L.K., Parcel,G.S., Kok, G., & Gottlieb, N.H. (2001). Intervention Mapping Designing Theory and Evidence-Based Health Promotion Promotion Programs. New York: McGraw-Hill

Depkes RI. (1994). Petunjuk Khusus Perawatan Pasien dan Jenazah pasien AIDS di Rumah Sakit. Jakarta

Flaskerud, Jacquelyn Haak, dkk.,(1995). HIV/AIDS A Guide to Nursing Care. WB

aunders Company: Philadelphia

Ignatavicius, Donna, dkk., (1995) Medical Surgical Nursing. WB Saunders Company:

Philadelphia

Monahan, Frances Donovan, (1998) dkk., Medical Surgical Nursing, Foundation for

Clinical Practice. WB Saunders Company: Philadelphia

Muma, Richard D., dkk., (1994). HIV, Manual untuk Tenaga Kesehatan, Terjemahan.

Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta

Notoatmodjo, S. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

International Council of Nurses. (2006). Reducing the impact of HIV/AIDS on nursing

and

midwifery personnel. Imprimerie Fornara: Geneva, Switzerland

International Labor Organization. (2005). HIV/AIDS and the world of work in ASEAN. Jakarta, Indonesia Polit, D.F., & Hungler, B.P. (1999). Nursing Research, Principal and Methods.

Philadelphia: Lippincott

Shernoff, M. (1999). AIDS and Mental Helath Practice, Clinical and Policy Issues. New

York: The Haworth Press

Wilburn, S.Q., and Eijkemans. (2004). Preventing needlestick injuries among healthcare

workers: A WHO-ICN collaboration. International Journal of Occupational

Enviromental Health. 10: 451-456

World Health Organization. (2000). Fact Sheets on HIV/AIDS for nurses and midwives.

Geneva, Switzerland

World Health Organization. (2003). Aide-memorie for a strategy to protect health care

workers from infection with bloodborne viruses. Geneva, Switzerland: WHO

Yamane, T. (1964). Statistics, An Introductory Analysis. New York: Harper & Row

Publishers

MAKALAH BAHASA INDONESIA

“ASUHAN PERAWATAN PADA PASIEN HIV/AIDS”

OLEH :

NICKE ASVIRANDA RISBI

0810322013

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ANDALAS

2009

DAFTAR ISI

LEMBARAN JUDUL............................................................................

KATA PENGANTAR...........................................................................

DAFTAR ISI..........................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang................................................

1.2 Tujuan.............................................................

1.3 Rumusan Masalah...........................................

1.4 Rangkaian Teori..............................................

1.5 Metode.............................................................

1.6 Sistematika Penulisan......................................

BAB II PEMBAHASAN

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan......................................................

3.2 Saran dan Kritik...............................................

DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,karunia-Nya dan hidayah serta rizki yang tiada banyaknya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Makalah ini.

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semua pihak karena telah ikut membantu dalam menyelesaikan makalah ini yang ditunjukkan kepada Rekan-rekan seperjuangan.

Penulis menyadari tugas ini jauh dari sempurna, disana sini tentu banyak terdapat kekurangan dan kelemahan-kelemahan yang tidak berkenan di hati pembaca, oleh karena itu penulis mengharapkan tegur sapa, kriktik dan saran-saran yang bersifat membangun sehingga makalah ini menjadi lebih sempurna, karena penulis selalu terbuka untuk menerima saran-saran,perbaikkan dari pembaca agar dapat bermanfaat bagi kita semua.

Padang, Januari 2009

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan penyakit menular dengan angka kematian yang tinggi dan dapat menjangkiti seluruh lapisan masyarakat darimulai bayi sampai dewasa baik laki-laki maupun perempuan. Di Indonesia, sejak tahun1987 perkembangan jumla h kasus AIDS maupun HIV (+) cenderung meningkat pada setiap tahunnya. Menurut laporan UNAIDS (2004), diketahui jumlah penderita HIV di Indonesia sebanyak diperkirakan 110.000 orang, sedangkan menurut harian Galamedia (28 Juli 2005) sampai Juni 2005 jumlah penderita AIDS di Indonesia tercatat 7098 orang. Secara epidemiologi dikenal fenomena gunung es, artinya bila ada satu kasus yang tercatat maka diasumsikan terdapat 200 kasus yang sama yang tidak tercatat. Hal ini merupakan ancaman yang serius bagi upaya pembangunan kesehatan dalam mencapai visi Indonesia

sehat tahun 2010. Di Jawa Barat, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, sampai Juni 2006 dilaporkan bahwa penderita HIV (+) sudah mencapai 1356 orang, penderita AIDS 798 orang, dan 102 orang yang telah meninggal dunia.

Penderita HIV telah tersebar di 25 Kota/Kabupaten di Jawa Barat termasuk di Kabupaten Garut. Menurut data Dinkes Propinsi Jawa Barat tahun 2004, dilaporkan ada 1 kasus HIV (+) dan 2 kasus AIDS di Garut. Dengan berkembangnya wilayah Kabupaten Garut sebagai salah satu ujuan wisata di Jawa Barat, tidak menutup kemungkinan munculnya dampak negative berupa bertambahnya kelompok resiko tertular HIV, yang pada gilirannya bisa menyebar pada penduduk lokal yang notabene mereka adalah para pengguna sarana pelayanan kesehatan utama termasuk rumah sakit yang ada di daerahnya. Tenaga keperawatan merupakan tenaga kesehatan terbanyak di rumah sakit dan memiliki kontak yang paling lama dengan pasien. Pekerjaan perawat merupakan jenis pekerjaan yang beresiko kontak dengan darah, cairan tubuh pasien, tertusuk jarum suntik bekas pasien, dan bahaya-bahaya lain yang dapat menjadi media penularan penyakit.

Menurut laporan situs http://www.avert.org, di Amerika Serikat pada tahun 2001 terdapat 57 kasus tenaga

No comments:

Google Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google